Awalnya biasa saja, jujur dia memang cantik, tapi
aku tak ada rasa terhadapnya sedikitpun, akupun tak akrab dengannya,sebelum aku dekat dengannya, pernah aku mencintai seseorang dan aku mendekatinya, rasa sayang dan
rasa ingin dekatpun kurasakan, sampai akhirnya aku memilikinya, tapi apa yang
terjadi? Singkat waktu aku menyakitinya bukan karena ada yang lain, tapi karena
perasaanku berubah begitu saja, dari cinta menjadi biasa, aku tidak bisa
berbohong untuk mencintainya lagi, karena jika berbohong tiap menit dan tiap
kata yang ku keluarkan untuknya, mungkin hanya akan menambah dosaku. Dengan
harus aku meninggalkannya.
Sekian waktu
berjalan aku masih sendiri, aku merasa sepi, hening walau aku punya banyak teman,
aku tetap manusia yang bisa merasakan keheningan, aku berdoa kepadaNYA, aku
butuh seseorang yang mampu menghiburku. Lama aku menunggu jawaban doa itu, tapi
aku tak pernah letih untuk terus berdoa. Dan suatu ketika aku tidak sadar kalau
semakin lama aku semakin didekatkan oleh seseorang, awalnya aku biasa saja,
tapi hari demi hari aku merasakan perbedaan, perasaan yang muncul dengan
sendirinya, semakin lama aku semakin sayang, tapi aku selalu berkata tidak. Aku
berdiam diri berbaring memandang langit langit kamar. Aku berfikir apa mungkin
ini jawaban dari doaku.
Aku semakin
sayang mungkin aku cinta, tapi aku takut perasaan ini hanya sementara seperti
yang sebelumnya. Hari demi hari berganti aku merasa semakin dekat, aku merasa
semakin nyaman . Dan aku mulai berdoa disetiap malam, aku berdoa meminta
kekuatan dan kemampuan untuk bisa membuat dia tersenyum membuat dia tertawa.
Aku merasa aku mendapatkannya aku merasa punya kekuatan dan kemampuan, aku
berhasil membuat dia tertawa, menghiburnya dan begitupun dia, selalu memiliki
tingkah untuk membuatku tersenyum.
Aku ingin
memilikinya tapi apa yang aku punya? Aku hanya seorang lelaki dengan impian
yang tinggi yang mengendarai sepeda kemanapun aku bertujuan, seorang lelaki yang
selalu didalam rumah menjaga perasaan ibuku ,sampai aku mengetahui bahwa ada
yang lain yang juga sedang mendekatinya dan mencoba untuk memilikinya. Aku takut,
takut terjadi apa yang tak kuharapkan, tapi aku juga ingin dia bahagia, karena
aku tau aku tak mungkin bisa membahagiakanya dengan keadaanku yang tidak
sebebas sekumpulan burung yang terbang sesuka mereka tanpa memikirkan hari
esok.
Mereka semua berkata padaku bahwa apa yang kita takuti biasanya selalu mendekat, dan aku
mencoba untuk tidak takut, dan aku terlambat. Yang tak kuharapkan
dan yang kuharapkan sudah terjadi, dia menjadi milik yang lain dan dia bahagia, Aku
hanya bisa tersenyum mengetahui hal itu. Sakit, tak bersemangat, tak kuat
melangkah, aku bertanya Tanya, ya Tuhan apa maksud semua ini terjadi padaku.
Aku mencoba bangkit dari rasa sakit ini, aku menatap cermin dan aku melihat aku
yang sedang menangis, aku tersenyum dan berbaring dikasur mencoba untuk tidur.
Sampai suatu
ketika ada sebuah acara, dia memintaku untuk datang, aku menyembunyikan rasa
sakit itu dengan senyuman, dan aku tidak datang ke acara itu, beberapa hari
sebelum acara dimulai, aku bertemu lagi dengannya, dan aku tak bisa bicara dan
tak ingin bicara apa apa, padanya aku hanya diam dan tak menjawab segala sapaan
dan candaan darinya, aku takut, aku takut luka ini bertambah, aku hanya berdiam
dikamar mengunci pintu, seharian penuh aku tak bertemu dengan siapapun, ibuku
terus mengetuk pintu kamarku pada saat malam, aku tak membukakan pintu. Sampai
aku sadar kalau aku menyakiti ibuku dengan membuatnya cemas, aku keluar dari
kamar dan aku menghampiri ibuku yang sedang duduk disofa, aku duduk dilantai
didepan kaki ibuku, aku menyandarkan keningku kelutut ibuku, aku meminta maaf
karena membuatnya cemas, ibu mengusap kepalaku, aku menahan perihku didepan
ibuku, ibu memintaku untuk bercerita, aku berbohong dengan berkata aku baik
baik saja, aku lekas pergi kembali kekamar, mencoba untuk tidur dan aku tak
bisa.
Setelah acara
selesai aku ada disana dan dia tidak mengetahui keberadaanku, tak seorangpun
tau keberadaanku, perih aku rasakan melihat mereka yang sedang berdua, aku
hanya ingin melihatnya setelah itu aku pergi. Waktu demi waktu aku
mencoba membiasakan diri, dan aku bisa, aku bisa menahan perih ini, bertemu
dengannya berbicara seperti biasa, dibalik senyumku sesungguhnya aku perih.
Waktu demi waktu berlalu aku tidak tau apa yang terjadi padanya, aku semakin
jauh darinya dan yang kubisa hanya menghubunginya dari jarak jauh.
Aku
merindukannya, ingin melihat senyumnya seperti dulu, tapi aku harus apa, aku tak
punya cela, aku benar benar merindukannya, sempat aku berlatih beladiri aku
terkena marah oleh pelatih karena aku melamun memikirkannya, saat pelatihku
menyiapkan target ditangan kanannya untuk di tendang, aku melamun dan asal
melayangkan kakiku, pelatih menahan tendanganku yang hampir mengenai kepalanya,
aku dimaki habis habisan, aku berhenti berlatih aku hanya duduk bersandar
sambil mendengarkan musik, lalu pulang kerumah.
Dia perempuan
pertama yang membuatku jatuh cinta hanya karena aku nyaman akrab berada
didekatnya, Aku bertanya Tanya bisakah aku bertemu dengannya lagi, akankah
Tuhan memberikanku kesempatan untuk dekat dengannya lagi, dan taukah dia akan
perasaan ku terhadapnya, awalnya aku takut memiliknya karena aku takut
perasaanku hanya sebentar untuknya, dan ternyata rasa ini masih ada dan terus
ada, semakin aku berdoa semakin aku mencintainya, dan apabila tujuan hidupku
tercapai, mungkin dialah yang pertama kali sangat ingin aku jumpai...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar